14
Mei
08

pacaran itu halal dan boleh, asalkan sudah diikat oleh pernikahan!

Tidak Ada Pacaran Islami!

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Menempelkan label Islami memang mudah. Namun ketika yang dilekati adalah
hal-hal yang menyimpang dari ajaran Islam, maka perkaranya menjadi berat
pertanggungjawabannya di hadapan Allah *Subhanahu wa Ta’ala*.

Allah *Subhanahu wa Ta’ala* berfirman dalam Al-Qur`an yang mulia:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan
manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan
mereka, mudahan-mudahan mereka mau kembali ke jalan yang benar.”
(Ar-Rum:41)

‘Ala`uddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al-Baghdadi *rahimahullahu* yang
masyhur dengan sebutan Al-Khazin menyatakan dalam tafsirnya terhadap ayat di
atas. *”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut”*, karena kesyirikan dan
maksiat tampaklah kekurangan hujan (kemarau) dan sedikitnya tanaman yang
tumbuh di daratan, di lembah, di padang sahara yang tandus dan di tanah yang
kosong. Kurangnya hujan ini selain berpengaruh pada daratan juga membawa
pengaruh pada lautan, di mana hasil laut berupa mutiara menjadi berkurang.
(*Tafsir Al-Khazin*, 3/393)

Kerusakan banyak terjadi di darat dan di laut, berupa rusak dan kurangnya
penghidupan/pencaharian manusia, tertimpanya mereka dengan berbagai penyakit
dan wabah serta perkara lainnya karena perbuatan-perbuatan rusak/ jelek yang
mereka lakukan. Semua itu ditimpakan kepada mereka agar mereka mengetahui
bahwa Allah *Subhanahu wa Ta’ala* akan membalas apa yang mereka perbuat.
Diharapkan dengan semua itu mereka mau bertaubat dari perbuatan jelek
mereka. Demikian kata Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu dalam
Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 634.

Demikianlah, kerusakan dapat kita jumpai di mana-mana. Jangankan di kota
besar, bahkan di pedesaan sekalipun. Belum lagi musibah yang terjadi hampir
di seluruh negeri. Semua itu tidak lain penyebabnya karena dosa anakmanusia.

Abul ‘Aliyah *rahimahullahu* berkata, “Siapa yang bermaksiat kepada Allah *Subhanahu
wa Ta’ala* di muka bumi maka sungguh ia telah membuat kerusakan di bumi.
Karena kebaikan di bumi dan di langit diperoleh dengan ketaatan.”
(*Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim*, 6/179)

Pergaulan anak muda yang rusak merupakan salah satu penyebab kerusakan
tersebut. Hubungan pra nikah dianggap sah. Pacaran boleh-boleh saja, bahkan
dianggap suatu kewajaran dan tanda kewajaran anak muda.

Di lembar ini, bukan hubungan mereka (baca: yang awam) yang ingin kita
bicarakan, karena telah demikian jelas penyimpangan dan kerusakannya! Para
pemuda pemudi yang katanya punya *ghirah* terhadap Islam, yang aktif dalam
organisasi Islam, training-training pembinaan keimanan dan kegiatan-kegiatan
Islami lah yang hendak kita tuju. Mungkin karena kedangkalan terhadap
ilmu-ilmu Islam atau terlalu mendominasinya hawa nafsu, mereka memunculkan
istilah “pacaran Islami” dalam pergaulan mereka.

Bagaimana pacaran Islami
yang mereka maukan? Jelas karena diberi embel-embel Islam, mereka hendak
berbeda dengan pacaran orang awam/jahil. Tidak ada saling sentuhan, tidak
ada pegang-pegangan, tidak ada kata-kata kotor dan keji. Masing-masing
menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi
pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, tentang umat, saling
mengingatkan untuk beramal, berdzikir kepada Allah *Subhanahu wa Ta’ala*,
mengingatkan negeri akhirat, tentang surga dan neraka. Begitu katanya!

Pacaran yang dilakukan hanyalah sebagai tahap penjajakan. Kalau cocok,
diteruskan sampai ke jenjang pernikahan. Kalau tidak, diakhiri dengan cara
baik-baik. Dulu penulis pernah mendengar ucapan salah seorang aktivis mereka
dalam suatu kajian keIslaman untuk mengalihkan anak-anak muda Islam dari
merayakan Valentine Day, “Daripada pemuda Islam, ikhwan sekalian, pacaran
dengan wanita-wanita di luar, yang tidak berjilbab, tidak shalihah, lebih
baik berpasangan dengan seorang muslimah yang shalihah.”

Darimanakah mereka mendapatkan pembenaran atas perbuatan mereka?
Benarkah mereka telah menjaga diri dari perkara yang haram atau malah mereka
terjerembab ke dalamnya dengan sadar ataupun tidak? Ya, setanlah yang
menghias-hiasi kebatilan perbuatan mereka sehingga tampak sebagai kebenaran.
Mereka memang -katanya- tidak bersentuhan, tidak pegangan tangan, tidak ini
dan tidak itu… Sehingga jauh dan jauh mereka dari keinginan berbuat nista
(baca: zina), sebagaimana pacarannya para pemuda-pemudi awam/jahil yang pada
akhirnya menyeret mereka untuk berzina dengan pasangannya.
*Na’udzubillah*!!!

Namun tahukah mereka (anak-anak muda yang katanya punya kecintaan
kepadaIslam ini) bahwa hati mereka tidaklah selamat, hati mereka telah
terjeratdalam fitnah dan hati mereka telah berzina? Demikian pula mata mereka,
telinga mereka?

Rasulullah *Shallallahu ‘alaihi wa sallam* telah mengingatkan dalam
sabdanya:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ
حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ
لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا الْعَيْنِ
النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ
الْمَنْطِقُ،
وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي،
وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ
يُكَذِّبُهُ

*”Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina1.
Dia akan mendapatkannya, tidak bisa tidak. Maka, zinanya mata adalah dengan
memandang (yang haram) dan zinanya lisan adalah dengan berbicara.
Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang
membenarkan semua itu atau mendustakannya.”*

(*HR. Al-Bukhari* no. 6243 dan *Muslim* no. 2657 dari Abu Hurairah *radhiyallahu ‘anhu*)

Dalam lafadz lain disebutkan:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ
مِنَ الزِّنَى، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَ
مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا
النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا
الْاِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ
الْكلامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا
الْبَطْشُ،
وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا
وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى،
وَيُصَدِّقُ
ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ

*”Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperoleh hal
itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, dan zinanya dengan memandang
(yang haram). Kedua telinga itu berzina, dan zinanya dengan mendengarkan
(yang haram). Lisan itu berzina, dan zinanya dengan berbicara (yang
diharamkan).

Tangan itu berzina, dan zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, dan
zinanya dengan melangkah (kepada apa yang diharamkan). Sementara, hati
itu berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluan yang membenarkan
semua itu atau mendustakannya.”* (*HR. Muslim* no. 2657)

Al-Imam An-Nawawi *rahimahullahu* berkata: *”Makna dari hadits di atas
adalah anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Maka di antara
mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan kemaluannya ke
dalam kemaluan yang haram (untuk dimasuki karena bukan pasangan hidupnya yang
sah, pent.).

Dan di antara mereka ada yang zinanya secara majazi (kiasan)
dengan memandang yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang
mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba
wanita yang bukan mahramnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk
menuju ke tempat berzina, atau untuk melihat zina, atau untuk menyentuh wanita
non mahram atau untuk melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita non
mahram dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk
zina secara majazi.

Sementara kemaluannya membenarkan semua itu atau
mendustakannya. Maknanya, terkadang ia merealisasikan zina tersebut
dengan kemaluannya, dan terkadang ia tidak merealisasikannya dengan tidak
memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram, sekalipun dekat
dengannya.”* (*Syarhu Shahih Muslim*, 16/206)

Dengan pacaran yang mereka beri embel-embel Islam, adakah mereka dapat
menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram? Sementara
memandang wanita *ajnabiyyah* (non mahram) atau laki-laki ajnabi termasuk
perbuatan yang diharamkan.

Allah *Subhanahu wa Ta’ala* memerintahkan:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ
أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ
خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. وَقُلْ
لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ
أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

*”Katakanlah (wahai Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah
mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan
mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada
wanita-wanita yang beriman:

‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka
dan memelihara kemaluan mereka…’.”* (*An-Nur: 30-31*)

Tidakkah mereka tahu bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi
laki-laki? Sebagaimana dinyatakan Rasulullah *Shallallahu ‘alaihi wa
sallam*dalam sabda beliau:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ
أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

*”Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi
laki-laki daripada fitnahnya wanita.”* (*HR. Al-Bukhari* no. 5096 dan *
Muslim* no. 6880)

Di samping itu, dengan pacaran “Islami” ala mereka, mereka tentu tidak
akan lepas dari yang namanya *khalwat* (berdua-duaan dengan lawan jenis)
dan *ikhtilath* (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya *
hijab*/tabir penghalang).

Rasulullah *Shallallahu ‘alaihi wa sallam* pernah bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ
إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

*”Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang
wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.”*

(*HR. Al-Bukhari* no. 1862 dan *Muslim* no. 3259)

Al-Qadhi Iyadh *rahimahullahu* berkata, *”Wanita adalah fitnah,
sehingga laki-laki ajnabi dilarang bersepi-sepi dengannya. Karena jiwa-jiwa
manusia diciptakan punya kecenderungan/syahwat terhadap wanita, dan setan akan
menguasai mereka dengan perantaraan para wanita.”*

Beliau juga mengatakan bahwa wanita adalah aurat yang sangat urgen
untuk dijaga dan dipelihara. Dan mahramnya sebagai orang yang memiliki

kecemburuan terhadapnyalah yang akan melindungi dan menjaganya. (*Al-Ikmal*, 4/448)

Al-Imam An-Nawawi *rahimahullahu* menyatakan, *”Adapun bila seorang
laki-laki ajnabi berdua-duaan dengan wanita ajnabiyah tanpa ada orang
ketiga bersama keduanya, maka hukumnya haram menurut kesepakatan ulama.
Demikian pula bila bersama keduanya hanya ada seseorang yang biasanya orang
tidak sungkan/tidak merasa malu berbuat sesuatu di hadapannya karena usianya
yang masih kecil, seperti anak laki-laki yang baru berumur dua atau tiga
tahun dan yang semisalnya. Karena keberadaan orang seperti ini sama saja
seperti tidak adanya.”* (*Al-Minhaj*, 9/113)

Rasulullah *Shallallahu ‘alaihi wa sallam* juga bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ
إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

*”Tidaklah sekali-kali seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang
wanita melainkan yang ketiganya adalah setan.”*

(*HR. At-Tirmidzi* no. 1171, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani *rahimahullahu* dalam *Shahih Sunan At-Tirmidzi*)

Karena bahayanya fitnah wanita dan bersepi-sepi dengan wanita,
Rasulullah *Shallallahu ‘alaihi wa sallam* sampai memperingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى
النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ
اْلأَنْصَارِ:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَرَأَيْتَ
الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ

*”Hati-hati kalian masuk ke tempat para wanita!” Berkatalah seseorang
dari kalangan Anshar, “Wahai Rasulullah! Apa pendapat anda dengan ipar?”
Beliau menjawab, “Ipar adalah maut.”*

(*HR. Al-Bukhari* no. 5232 dan *Muslim* no. 5638)

Ipar di sini adalah kerabat suami selain ayah dan anak laki-lakinya.
Makna *”Ipar adalah maut”*, kata Al-Imam An-Nawawi *rahimahullahu*, bahwa
kekhawatiran terhadap ipar lebih besar daripada orang selainnya. Kejelekan bisa
terjadi darinya dan fitnahnya lebih besar. Karena biasanya ia bisa masuk dengan
leluasa menemui wanita yang merupakan istri saudaranya atau istri
keponakannya, serta memungkinkan baginya berdua-duaan dengan si wanita
tanpa ada pengingkaran, karena dianggap keluarga sendiri. Beda halnya kalau
yang melakukan hal itu laki-laki *ajnabi* yang tidak ada hubungan keluarga
dengan si wanita. (*Al-Minhaj*, 14/ 378)

Ketika Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
*rahimahullahu*ditanya tentang hubungan kasih antara laki-laki dan
perempuan yang terjalin sebelum *zawaj*, beliau menjawab, “Bila yang dimaukan
penanya, sebelum * zawaj* adalah sebelum *dukhul* (jima’) setelah dilangsungkannya akad
nikah, maka tidak ada dosa tentunya. Karena dengan adanya akad berarti si
wanita telah menjadi istrinya walaupun belum *dukhul*.

Namun bila yang dimaksud sebelum *zawaj* adalah sebelum akad nikah,
baru pelamaran atau belum sama sekali, maka yang ini haram. Tidak boleh dilakukan.
Tidak diperkenankanseorang lelaki bernikmat-nikmat dengan seorang wanita

*ajnabiyah*, baik dalam ucapan, pandangan, maupun *khalwat*.” (*Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah*, 2/600)

*Seorang laki-laki yang telah resmi melamar seorang wanita sekalipun,
ia tetap harus menjaga jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterimanya
pinangannya tidak berarti ia bisa bebas berbicara dan bercanda dengan
wanita yang akan diperistrinya, bebas surat-menyurat, bebas telepon, bebas
sms, bebas chatting, ngobrol apa saja. Karena hubungan keduanya belum resmi,
si wanita masih tetap ajnabiyah baginya. Lalu apatah lagi orang yang baru
sekadar pacaran belum ada peminangan, walaupun diembel-embeli kata
Islami?*

Ada seorang lelaki meminang seorang wanita. Di hari-hari setelah
peminangan, ia biasa bertandang ke rumah si wanita, duduk sebentar bersamanya
dengan didampingi mahram si wanita dalam keadaan si wanita memakai hijab yang
syar’i. Berbincanglah si lelaki dengan si wanita, namun pembicaraan
mereka tidak keluar dari pembahasan agama ataupun bacaan Al-Qur`an.

Ketika Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin *rahimahullahu* dimintai fatwa tentang hal
ini, beliau menjawab, *”Hal seperti itu tidak sepantasnya dilakukan. Karena
perasaan si lelaki bahwa wanita yang duduk bersamanya telah dipinangnya
secara umum akan membangkitkan syahwat. Sementara bangkitnya syahwat
kepada selain istri dan budak perempuan yang dimiliki adalah sesuatu yang
haram.
Dan sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman, haram pula hukumnya.”*
(*Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin*, 2/748)

Permasalahan senada ditanya kepada Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin
Abdillah Al-Fauzan *hafizhahullah*, hanya saja pembicaraan si lelaki dengan si
wanita yang telah dipinangnya tidak secara langsung namun lewat telepon.
Beliau pun memberikan jawaban, “Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat
telepon dengan wanita yang telah dipinangnya, bila memang pinangannya telah
diterima dan pembicaraan yang dilakukan dalam rangka mencari pemahaman sebatas
kebutuhan yang ada, tanpa adanya fitnah. Namun bila hal itu dilakukan
lewat perantara wali si wanita, maka itu lebih baik dan lebih jauh dari
keraguan/fitnah.

Adapun pembicaraan yang biasa dilakukan laki-laki dengan wanita, antara
pemuda dan pemudi, padahal belum berlangsung lamaran di antara mereka,
namun hanya bertujuan untuk saling mengenal -sebagaimana yang mereka
istilahkan- maka ini mungkar, haram. Bisa mengarah kepada fitnah dan menjerumuskan
kepada perbuatan keji.

Allah *Subhanahu wa Ta’ala* berfirman:

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ
فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
وَقُلْنَ
قَوْلاً مَعْرُوفًا

*”Maka janganlah kalian tunduk (lembut mendayu-dayu) dalam berbicara
sehingga berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit dan
ucapkanlah ucapan yang ma’ruf.”* (*Al-Ahzab: 32*)

Seorang wanita tidak sepantasnya berbicara dengan laki-laki *ajnabi*
kecuali bila ada kebutuhan, dengan mengucapkan perkataan yang ma’ruf, tidak ada
fitnah di dalamnya dan tidak ada keraguan (yang membuatnya dituduh
macam-macam).

Ulama telah menyebutkan bahwa wanita yang sedang berihram melakukan
talbiyah tanpa mengeraskan suaranya. Dan di dalam hadits disebutkan:

إِذَا أَتَاكُمْ شَيْءٌ فِي
صَلاَتِكُمْ، فَلْتُسَبِّحِ الرِّجَالُ
وَلْتَصْفِقِ النِّسَاءُ

*”Apabila datang pada kalian sesuatu dalam shalat kalian, maka
laki-laki hendaklah bertasbih dan wanita hendaknya memukul tangannya.”*

*Hadits di atas termasuk dalil yang menunjukkan bahwa wanita tidak
semestinya memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan
mahramnya, kecuali dalam keadaan-keadaan yang dibutuhkan sehingga ia terpaksa
berbicara dengan laki-laki dengan disertai rasa malu. Wallahu a’lam.”*
(*Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan*, 3/163,164)

*Kita baru menyinggung pembicaraan via telepon ataupun secara langsung.
Lalu bagaimana bila pemuda-pemudi berhubungan lewat surat?*

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman dalam *Fatawa Al-Mar`ah* (hal. 58)
ditanya, “Bila seorang lelaki melakukan surat-menyurat dengan seorang
wanita *ajnabiyah*, hingga pada akhirnya keduanya saling jatuh cinta, apakah
perbuatan ini teranggap haram?” Beliau menjawab, “Perbuatan seperti itu
tidak boleh dilakukan, karena dapat membangkitkan syahwat di antara dua
insan.

Dan syahwat tersebut mendorong keduanya untuk saling bertemu dan
terus berhubungan. Kebanyakan surat-menyurat seperti itu menimbulkan
fitnah dan menumbuhkan kecintaan kepada zina di dalam hati. Di mana hal ini
termasuk perkara yang menjatuhkan seorang hamba ke dalam perbuatan
keji, atau menjadi sebab yang mengantarkan kepada perbuatan nista. Karenanya,
kami memberikan nasihat kepada orang yang ingin memperbaiki dan menjaga
jiwanya agar tidak melakukan surat-menyurat yang seperti itu dan menjaga diri
dari pembicaraan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Semuanya dalam
rangka menjaga agama dan kehormatannya. Dan Allah *Subhanahu wa Ta’ala*-lah
yang memberi taufik.”

Bila ada yang berdalih bahwa isi surat-menyurat mereka jauh dari
kata-kata keji, tidak ada kata-kata gombal dan rayuan cinta di dalamnya, apatah
lagi dalam surat menyurat tersebut dikutip ayat-ayat Allah *Subhanahu wa
Ta’ala*, maka dijawab oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin *
rahimahullahu*, “Tidak boleh bagi seorang lelaki, siapapun dia, untuk
surat-menyurat dengan wanita *ajnabiyah*. Karena hal itu akan menimbulkan fitnah.

Terkadang orang yang melakukan perbuatan demikian menyangka
bahwa tidak ada fitnah yang timbul. Akan tetapi setan terus menerus
menyertainya, hingga membuatnya terpikat dengan si wanita dan si wanita terpikat
dengannya.”

Asy-Syaikh *rahimahullahu* melanjutkan, *”Dalam surat-menyurat antara
pemuda dan pemudi ada fitnah dan bahaya yang besar, sehingga wajib untuk
menjauh dari perbuatan tersebut, walaupun penanya mengatakan dalam surat
menyurat tersebut tidak ada kata-kata keji dan rayuan cinta.” (Fatawa Asy-Syaikh
Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, 2/898)

Demikianlah… Lalu, masihkah ada orang-orang yang memakai label Islam
untuk membenarkan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran?

Wallahul musta’an.

Footnote:

1 Yakni yang namanya zina itu tidak hanya diistilahkan dengan apa yang
diperbuat oleh kemaluan, bahkan memandang apa yang haram dipandang dan
selainnya juga diistilahkan zina. (Fathul Bari, 11/28)

sumber

2008/5/12 Awan Kurniawan <awan_rohis16_by_alkahfi2@yahoo.co.id>:

> assalamu’alaikum
> afwan, sebelumnya ana taufik kurniawan, ana seorang pengurus rohis
> disebuah smk. ana ingin bertanya tentang, pacaran menurut pandangan
islam
> yang shohih.apa pacaran itu haram apa tidak? dan tindakan apa yang
harus
> kita lakukan untuk menjauhi tindakan tersebut.
> mohon penjelasannya, terima kasih.
> wassalamu’alaikum
>
>
>

————————————

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: assunnah-unsubscribe@yahoogroups.com
Ketentuan posting :
http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:assunnah-digest@yahoogroups.com
mailto:assunnah-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
assunnah-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Hapus Jawab Teruskan Spam Pindahkan…
Sebelumnya | Berikutnya | Kembali ke Pesan


0 Responses to “pacaran itu halal dan boleh, asalkan sudah diikat oleh pernikahan!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


tracker
Mei 2008
R K J S M S S
« Apr   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip

statistik blog

  • 189,961 hits

Kategori


%d blogger menyukai ini: